The Struggle Story of Citra Nur Ramadani: From Selling Peanuts to Karate Champion

Sejak kecil, Citra, citra nur ramadhani, harus menghadapi kehidupan yang penuh keterbatasan. Gadis 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, itu bahkan kehilangan sang ayah ketika usianya baru delapan tahun.

Sejak kecil, Citra harus menghadapi kehidupan yang penuh keterbatasan. Gadis 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, itu bahkan kehilangan sang ayah ketika usianya baru delapan tahun. (foto: detik.com)
Citra Nur Ramadhani dalam HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Jakarta

Kehilangan Ayah dan Pernah Dibully, Citra Kini Bangkit Lewat Sekolah Rakyat

PANGKAJENE DAN KEPULAUAN — Sejak kecil, Citra Nur Ramadhani harus menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan. Gadis berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, itu bahkan harus kehilangan sang ayah ketika usianya baru delapan tahun.

Ayah Citra meninggal dunia akibat diabetes. Kepergian sang ayah menjadi pukulan berat bagi Citra yang dikenal sangat dekat dengan sosok ayahnya.

Namun, sebelum meninggal dunia, sang ayah rupanya masih memikirkan masa depan putrinya. Ia sempat menitipkan pakaian dan sepatu kepada ibu Citra agar anaknya tetap dapat bersekolah.

“Citra itu, waktu bapaknya meninggal, ia sedih karena dia lengket sama bapaknya,” ujar Hajrah, ibu Citra, sebagaimana dikutip pada Rabu (12/8).

Cobaan yang dihadapi Citra ternyata tidak berhenti setelah kehilangan ayah.

Citra Nur Ramadhani
Citra Nur Ramadhani

Di sekolah, Citra juga pernah mengalami perundungan karena kondisi ibunya yang merupakan penyandang disabilitas. Pengalaman tersebut membuat Citra merasa tidak nyaman untuk terus bersekolah.

Ia kemudian memilih menghindari lingkungan sekolah dan berkeliling menjual kacang. Sementara itu, sang ibu bekerja sebagai penyapu masjid untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Kondisi tersebut perlahan membuat kepercayaan diri Citra menurun. Kesempatannya untuk belajar dengan tenang sekaligus mengembangkan bakat yang dimiliki pun ikut terhambat.

Menemukan Kembali Semangat di Sekolah Rakyat

Perubahan mulai dirasakan Citra setelah ia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan.

Di lingkungan sekolah yang baru, Citra mendapatkan dukungan dari teman-teman, wali asrama, serta para tenaga pengajar. Dukungan tersebut membuatnya perlahan kembali bersemangat mengikuti kegiatan belajar.

Bukan hanya kembali bersekolah, Citra juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Salah satu bakat yang kemudian ia tekuni adalah karate.

Bakat tersebut bahkan membawanya meraih prestasi di bidang olahraga bela diri tersebut.

“Alhamdulillah, mama saya ini dapatkan juara dua karate,” tutur Hajrah dengan bangga.

Maysaroh, wali asuh Citra di SR Terintegrasi 67, juga melihat perubahan besar dalam diri anak tersebut.

Menurutnya, Citra yang sebelumnya cenderung merasa rendah diri kini mulai mampu berinteraksi dengan teman-temannya dan menunjukkan kepercayaan diri.

“Alhamdulillah, setelah di Sekolah Rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan teman-temannya dengan baik,” kata Maysaroh.

Citra juga menunjukkan sejumlah bakat, salah satunya karate. Kini, ia bahkan telah berhasil meraih prestasi di bidang tersebut.

Sekolah Rakyat Mengembalikan Kepercayaan Diri Citra

Bagi Citra, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat untuk kembali mendapatkan pendidikan.

Lingkungan baru tersebut menjadi ruang bagi dirinya untuk kembali membangun kepercayaan diri, berteman tanpa rasa takut, sekaligus mengembangkan kemampuan yang selama ini sempat terhambat oleh keadaan.

Citra pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas hadirnya program Sekolah Rakyat yang memberinya kesempatan untuk kembali bersekolah.

Dengan lingkungan yang lebih mendukung, Citra berharap dapat terus belajar dan mengembangkan bakatnya tanpa harus mengalami perundungan seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya.

“Halo Pak Presiden, terima kasih telah membuat Sekolah Rakyat. Dengan demikian, Citra bisa bersekolah lagi di Sekolah Rakyat, sehingga tidak ada yang mem-bully saya di sini,” ujar Citra.

Kini, dari seorang anak yang sempat kehilangan semangat untuk bersekolah, Citra perlahan menemukan kembali keberaniannya.

Kisah Citra menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang aman, lingkungan yang mendukung, dan ruang untuk mengembangkan bakat dapat menjadi titik balik penting bagi seorang anak untuk bangkit dan menatap masa depan.

sumber kemenpora