Inklusivitas,Ketika Kesempatan Mengubah Hidup Seseorang

Apakah itu inklusi? inklusivitas?

Anak Inklusi
Anak Inklusi

Bukan minta dikasihani, tetapi mereka minta diberi kesempatan karena inkulsivitas.

Inklusivitas.

Pernahkah kita melihat seseorang yang berbeda dari kita, lalu tanpa sadar berpikir, “Kasihan sekali dia.” Apakah itu Inklusi?

Mungkin itu terlihat seperti bentuk kepedulian.

Namun, bagaimana jika sebenarnya orang tersebut tidak membutuhkan rasa kasihan?

Bagaimana jika yang ia butuhkan hanya satu hal sederhana: kesempatan yang sama?

Kesempatan untuk sekolah.
Kesempatan untuk bekerja.
Kesempatan untuk berbicara.
Kesempatan untuk mengambil keputusan.
Dan kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak selalu menentukan masa depan seseorang.

Di sinilah inklusivitas menjadi penting.

Apa Itu Inklusivitas?

Secara sederhana, inklusivitas berarti menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang untuk berpartisipasi, diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan yang setara tanpa diskriminasi.

Inklusivitas tidak berarti semua orang harus memiliki kemampuan, kondisi, atau latar belakang yang sama.

Justru sebaliknya.

Inklusivitas mengakui bahwa manusia memang berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan hak seseorang.

Dalam konteks disabilitas, perubahan cara pandang ini sangat penting.

Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2019 menegaskan perubahan paradigma terhadap penyandang disabilitas: dari pendekatan yang melihat mereka sebagai objek bantuan menuju pendekatan berbasis hak asasi manusia. Dengan pendekatan tersebut, penyandang disabilitas memiliki posisi sebagai subjek yang memiliki hak dan harus memperoleh penghormatan, pelindungan, serta pemenuhan hak.

Artinya, kita tidak seharusnya bertanya, “Apa yang bisa kita berikan kepada mereka?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apa yang harus kita lakukan agar mereka dapat menggunakan haknya secara setara?”

Inklusi Bukan Sekadar Membuka Pintu

Bayangkan sebuah gedung yang sudah membuka pintunya untuk pengguna kursi roda.

Namun, di depan pintu terdapat tangga.

Secara formal, pintunya memang terbuka.

Tetapi apakah orang tersebut benar-benar bisa masuk?

Contoh sederhana ini menggambarkan perbedaan antara akses dan inklusivitas.

Inklusi tidak berhenti pada keputusan untuk menerima seseorang.

Kita juga harus memastikan lingkungan, fasilitas, aturan, komunikasi, dan cara kerja memungkinkan orang tersebut benar-benar berpartisipasi.

Karena itu, inklusi membutuhkan apa yang dikenal sebagai aksesibilitas dan akomodasi yang layak.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menempatkan kesamaan kesempatan sebagai bagian penting dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, termasuk melalui aksesibilitas dan akomodasi yang layak.

Mengapa Inklusivitas Sangat Penting?

Salah satu masalah terbesar dalam kehidupan sosial bukan selalu terletak pada kondisi seseorang.

Sering kali, hambatan justru muncul dari lingkungan.

Seorang anak mungkin mampu belajar dengan baik, tetapi sekolah tidak menyediakan fasilitas yang sesuai.

Seseorang mungkin memiliki kemampuan bekerja, tetapi perusahaan hanya melihat kondisi fisiknya.

Seseorang mungkin memiliki gagasan yang bagus, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan berbicara karena lingkungan menganggap dirinya berbeda.

Dalam perspektif inklusi, kondisi tersebut disebut sebagai hambatan partisipasi.

Karena itu, solusi tidak selalu berarti “memperbaiki” orangnya.

Terkadang, kita justru harus memperbaiki lingkungannya.

Inklusivitas dalam Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu ruang paling penting untuk membangun masyarakat inklusif.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. UU tersebut juga menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik.

Sekolah juga menjadi tempat anak belajar menerima perbedaan.

Anak belajar bahwa teman yang memiliki disabilitas tetap memiliki hak untuk berteman.

Anak belajar bahwa perbedaan kondisi ekonomi tidak menentukan harga diri seseorang.

Anak belajar bahwa perbedaan kemampuan tidak membuat seseorang lebih rendah.

Dan yang paling penting, anak belajar bahwa setiap manusia memiliki tempat di dalam masyarakat.

Apa Itu Akomodasi yang Layak?

Akomodasi yang layak berarti penyesuaian atau dukungan yang diperlukan agar penyandang disabilitas dapat menjalankan aktivitas dan menggunakan haknya secara setara.

Dalam pendidikan, bentuknya bisa sangat beragam.

Misalnya:

  • Penyesuaian metode pembelajaran.
  • Materi pembelajaran yang lebih mudah diakses.
  • Fleksibilitas dalam proses evaluasi.
  • Penyediaan sarana dan prasarana yang sesuai.
  • Dukungan pendidik dan tenaga kependidikan.
  • Penyesuaian waktu ketika dibutuhkan.

PP Nomor 13 Tahun 2020 secara khusus mengatur Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas. Regulasi ini bertujuan memastikan peserta didik penyandang disabilitas memperoleh layanan pendidikan dengan dukungan yang sesuai kebutuhannya.

Kemudian, Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 mengatur lebih lanjut akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas pada pendidikan anak usia dini formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi. Regulasi tersebut juga mengatur pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Dengan demikian, pendidikan inklusif bukan sekadar slogan.

Ada kerangka hukum yang mengaturnya.

Inklusi Tidak Hanya Tentang Disabilitas

Ketika mendengar kata “inklusivitas”, banyak orang langsung mengaitkannya dengan penyandang disabilitas.

Padahal cakupannya jauh lebih luas.

Inklusivitas juga berkaitan dengan kesempatan bagi kelompok yang menghadapi hambatan sosial, ekonomi, budaya, maupun struktural.

Contohnya dapat terlihat dalam:

Pendidikan: memastikan semua anak memperoleh kesempatan belajar.

Dunia kerja: memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi, bukan prasangka.

Pelayanan publik: menyediakan layanan yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan beragam kebutuhan.

Teknologi dan informasi: membuat informasi dapat diakses oleh lebih banyak orang.

Lingkungan sosial: membangun ruang yang membuat setiap orang merasa diterima.

Karena itu, inklusivitas bukan hanya agenda pemerintah.

Ia juga merupakan tanggung jawab sekolah, perusahaan, keluarga, komunitas, media, dan masyarakat.

Bagaimana Membangun Lingkungan yang Inklusif?

Membangun inklusivitas tidak selalu membutuhkan perubahan besar.

Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana.

Pertama, ubah cara pandang.

Jangan melihat seseorang hanya berdasarkan keterbatasannya.

Kedua, dengarkan kebutuhan mereka.

Orang yang mengalami hambatan adalah pihak yang paling memahami hambatan tersebut.

Ketiga, hilangkan diskriminasi.

Jangan membuat keputusan berdasarkan stereotip atau prasangka.

Keempat, sediakan akses yang layak.

Bangunan, informasi, pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan publik harus mempertimbangkan keragaman kebutuhan masyarakat.

Kelima, berikan kesempatan untuk berpartisipasi.

Jangan hanya berbicara tentang kelompok tertentu tanpa melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya.

Inklusivitas Adalah Investasi Sosial

Masyarakat sering melihat inklusi sebagai bentuk bantuan.

Padahal, inklusi juga memberikan manfaat kepada masyarakat secara keseluruhan.

Ketika anak mendapatkan pendidikan yang layak, ia memiliki kesempatan mengembangkan potensi.

Ketika seseorang mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensinya, ia dapat berkontribusi secara ekonomi.

Ketika ruang publik menjadi lebih aksesibel, semakin banyak orang dapat menggunakannya.

Ketika masyarakat menerima keberagaman, konflik akibat prasangka dapat berkurang.

Dengan kata lain, inklusi bukan hanya membantu individu. Inklusi memperkuat masyarakat.

Pemerintah sendiri telah menempatkan isu pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagai agenda lintas sektor. PP Nomor 70 Tahun 2019 mengatur perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi penghormatan, pelindungan, serta pemenuhan hak penyandang disabilitas.

Tantangan Terbesar: Mengubah Cara Berpikir

Infrastruktur mungkin bisa dibangun dalam hitungan bulan.

Aturan bisa dibuat dalam hitungan hari.

Namun, mengubah cara berpikir manusia membutuhkan waktu lebih panjang.

Sebab diskriminasi tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan kasar.

Kadang ia hadir dalam bentuk candaan.

Kadang berupa asumsi.

Kadang berupa keputusan yang dibuat tanpa melibatkan orang yang terdampak.

Dan kadang muncul dari kalimat yang terdengar sederhana:

“Dia kan berbeda.”

Perbedaan memang nyata.

Tetapi perbedaan tidak pernah menjadi alasan yang cukup untuk mengurangi martabat seseorang.

Dari “Kasihan” Menjadi “Kesempatan”

Mungkin sudah waktunya kita mengubah satu kebiasaan.

Ketika melihat seseorang menghadapi keterbatasan, jangan langsung bertanya:

“Apa yang bisa saya kasih?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan agar dia memiliki kesempatan yang sama?”

Perubahan kecil dalam cara berpikir tersebut dapat menghasilkan perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Seorang anak yang sebelumnya takut masuk sekolah mungkin kembali belajar.

Seseorang yang selama ini hanya berada di rumah mungkin mulai bekerja.

Seseorang yang tidak pernah didengar mungkin akhirnya berani berbicara.

Dan seseorang yang selama ini dianggap tidak mampu mungkin justru menjadi orang yang paling mengejutkan kita dengan prestasinya.

Inklusi Bukan Tentang Membuat Semua Orang Sama

Pada akhirnya, inklusivitas bukan tentang menghapus perbedaan.

Kita tidak perlu membuat semua orang menjadi sama untuk menciptakan masyarakat yang adil.

Kita hanya perlu memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi alasan untuk menghilangkan kesempatan.

Sebab setiap manusia memiliki kemampuan, kebutuhan, pengalaman, dan jalan hidup yang berbeda.

Yang seharusnya sama adalah hak untuk dihargai, hak untuk mendapatkan kesempatan, dan hak untuk hidup dengan bermartabat.

Inilah inti dari inklusivitas.

Bukan belas kasihan.

Bukan sekadar slogan.

Bukan pula sekadar program.

Inklusivitas adalah keputusan untuk memastikan tidak ada seseorang yang kehilangan masa depan hanya karena masyarakat tidak memberinya ruang untuk tumbuh.

Dan mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari kita.

Dari cara kita berbicara.

Dari cara kita memperlakukan orang lain.

Dari cara kita membangun sekolah, tempat kerja, dan ruang publik.

Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan kita untuk mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya membutuhkan satu pintu yang terbuka.

Dan ketika pintu itu terbuka, mungkin kita akan melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah kita sadari:

bukan dia yang tidak memiliki kemampuan. Kita saja yang belum memberinya kesempatan.

disablitas dukungan disabilitas pengertian disabilitas PKH social assistance